Memahami Volatilitas yang Sangat Penting dalam Trading Forex

Kondisi perekonomian yang serba tak tentu akibat pandemi Covid-19 saat ini, membuat semua orang harus bisa berpikir cerdas. Cerdas dan cermat dalam mencari penghasilan tambahan supaya tetap mampu bertahan demi diri sendiri dan orang tersayang.

Seperti yang Anda ketahui, Covid-19 membuat pergerakan manusia dibatasi demi mencegah penularan wabah virus corona tersebut. Banyak orang memilih di dalam rumah yang akhirnya berimbas ke penghasilan. Menurut mereka, pembatasan kegiatan sosial justru membuat kehilangan peluang meraup Rupiah.

Apakah memang begitu? Apakah memang #DiRumahAja tidak bisa menghasilkan? Kalau memang termasuk yang berpikir demikian, maka Anda bisa mempertimbangkan untuk melakukan kegiatan trading. Berbeda dengan investasi, trading bisa dilakukan dalam jangka pendek.

Lantaran jangka pendek itulah, trading dipandang jauh lebih menguntungkan terutama di masa perekonomian suram seperti saat ini. Ada banyak instrumen yang bisa diperdagangkan, salah satunya ialah forex (foreign exchange) alias valas (valuta asing). Hanya saja jika memang ingin meraup cuan besar, Anda sebagai trader harus paham betul dengan volatilitas.

Baca juga: Analisa Teknikal, Hal Penting yang Wajib Dipahami Saat Trading

Apa itu Volatilitas?

apa itu volatilitas
©invesco.us

Perputaran uang dalam pasar uang (forex) memang dilakukan tidak di tempat tertentu, sehingga forex seringkali disebut sebagai pasar likuiditas primer. Dibandingkan pasar aset finansial lainnya, forex memang memiliki likuiditas yang tinggi sehingga membuat pergerakan harga dan nilai volatilitas makin melambung.

Dalam dunia trading, nilai volatilitas sangat menentukan peluang profit seseorang. Memang, apa sih volatilitas itu?

Secara mudahnya, volatilitas adalah besar jarak antara pergerakan naik turunnya harga saham atau valas. Jika terjadi volatilitas tinggi dalam sebuah pasar forex, maka artinya harga bisa naik atau turun dalam waktu yang sangat cepat. Situasi ini akhirnya memunculkan adanya selisih yang sangat besar antara harga terendah dan tertinggi.

Namun memang tak bisa dipungkiri, makin tinggi nilai volatilitas, maka makin besar pula keuntungan yang bisa diraup trader. Biasanya nilai volatilitas ini diperlihatkan dalam jumlah pips. Untuk forex sendiri, pasangan mata uang seperti GBP/USD, EUR/JPY, GBP/JPY hingga EUR/USD biasanya memiliki volatilitas tertinggi.

Bagi para trader, volatilitas ini memang jadi salah satu indikator informasi untuk menetapkan posisi pembukaan dan penutupan. Tapi wajib diingat, volatilitas tidak sama dengan risiko. Memang volatilitas bisa dibuat untuk mengukur risiko, tapi tetap tak bisa jadi patokan utama soal risiko pasar forex.

Hal-Hal Penting Soal Volatilitas

hal-hal penting soal volatilitas
© fmgsuite

Tak bisa dipungkiri bahwa volatilitas yang tinggi memang membuat trading forex makin menantang dan tentunya menarik. Kenapa begitu? Karena peluang trader untuk meraup cuan makin besar. Namun kendati demikian, dalam menyikapi volatilitas harga masih tergantung pada profil investasi masing-masing trader.

Kalau Anda adalah seorang trader konservatif, menghindari volatilitas tinggi memang jadi pilihan terbaik. Namun kalau Anda trader yang agresif dan berhasrat dapat untung besar, volatilitas tinggi adalah sebuah kesempatan emas. Supaya tidak salah, berikut beberapa hal penting tentang volatilitas yang wajib diketahui:

Baca juga: Hal-Hal yang Harus Diketahui dan Cara Buka Akun di Panin Sekuritas

1. Volatilitas = Market Mood

Tak berlebihan jika disebutkan kalau volatilitas merupakan karakteristik utama dalam pasar forex. Sehingga membuat forex menjadi pasar terbesar dan terluas di dunia lantaran perbedaan pergerakan harga pasar selalu berubah.

Karena itulah, volatilitas kerap juga disebut sebagai market mood. Dengan memperhatikan volatilitas yang terjadi, Anda akan tahu bagaimana pergerakan harga apakah sedang melonjak drastis atau terjun bebas. Seperti mood manusia, volatilitas juga bisa jadi pertimbangan Anda untuk melakukan trading dan melihat kondisi seller serta buyer.

2. Profit dan Risiko Berbanding Lurus

Kendati sudah disebutkan sebelumnya bahwa volatilitas tidak sama dengan risiko, tetap saja volatilitas tak bisa mengukur risiko itu sendiri. Yang bisa diketahui hanyalah ketika volatilitas tinggi, peluang untuk meraup untung jauh lebih besar lantaran harga bakal bergerak dari penutupan.

Tapi tetap diingat bahwa peluang untung yang tinggi selalu berbanding lurus dengan risiko yang ada. Kok bisa? Karena tak ada yang bisa menahan atau memprediksi pasar yang terus fluktuatif. Untuk itulah, Anda harus memainkan peran Stop Loss dengan tepat. Sekadar informasi, Stop Loss adalah nilai batasan harga terendah yang ditentukan supaya kerugian bisa diminimalisir.

3. Dipengaruhi Fundamental

Hal penting yang juga wajib diperhatikan dalam membaca volatilitas adalah informasi fundamental. Yap, volatilitas bisa meningkat saat ada kabar baru yang berbeda dengan perkiraan pasar dirilis. Tentunya bukan kabar biasa, tetapi merujuk pada event penting dalam pasar ekonomi dunia.

Supaya mempermudah trader, broker biasanya menyediakan informasi soal jadwal berita-berita fundamental ini karena memang bisa memicu volatilitas. Sekadar informasi, untuk pasar forex ada empat data ekonomi Amerika Serikat yang memberikan pengaruh besar terhadap sentimen pasar.

4. Wajib Jadi Fokus Trader

Seorang trader haruslah meletakkan volatilitas sebagai fokus utama mereka. Terutama ketika volatilitas sedang tinggi saat terjadi overlap (pertemuan sesi perdagangan setiap hari). Hal serupa juga terjadi ketika ada berita fundamental yang dirilis atau saat likuiditas pasar forex melambung.

Sementara itu ketika hari libur nasional tengah terjadi di Amerika Serikat seperti pekan Natal, Tahun Baru hingga Thanksgiving, volatilitas bakal jadi rendah. Namun sekalipun volatilitas rendah, Anda tak perlu khawatir dan cemas. Asalkan memiliki strategi yang tepat, Anda bisa merup untung baik saat volatilitas tinggi atau rendah.

Tips Trading Forex Saat Volatilitas Rendah

tips trading volatilitas rendah

Dalam trading forex baik volatilitas tinggi atau rendah, sama-sama menguntungkan dengan strategi yang tepat. Contohnya saat volatilitas sedang tinggi-tingginya, trader haruslah memiliki keputusan yang bijak. Baik dalam mempertimbangkan besaran lot, menetapkan Take Profit hingga memasang Stop Loss.

Dengan hal-hal tersebut, Anda tentu bisa menghadapi pasar secara lebih tenang waktu volatilitas tinggi. Karena memang volatilitas tinggi sangat cocok untuk trading jangka panjang, dengan karakter trader yang agresif. Hanya saja Anda harus benar-benar sudah terlatih, stabil dan disiplin supaya bisa mengatur keuangan dengan tepat.

Baca juga: Inilah 5 Platform Social Trading Terbaik!

Namun bagaimana jika volatilitas rendah saat libur panjang? Tentu pasar forex cenderung sepi. Bahkan pasangan mata uang EUR/USD yang biasanya bergerak lebih dari 150 pips bisa anjlok sampai 50-an pips. Di saat seperti ini, trader tentuk tak akan berhasil jika menggunakan strategi konservatif. Supaya tak rugi, beberapa tips berikut bisa dicoba:

  1. Saat volatilitas rendah, sebisa mungkin Anda tidak ngotot mengejar cuan. Cobalah bersikap realistis dengan tidak memaksakan kehendak pribadi terhadap pasar. Alih-alih untung besar, profit melebihi loss saja sudah sangat memadai
  2. Daripada trading di pasangan mata uang yang belum pasti, saat kondisi volatilitas rendah lebih baik memilih pasangan yang pergerakannya sudah jelas. Sebagai langkah aman, ikuti tren saja
  3. Berbeda dengan saat volatilitas tinggi, waktu volatilitas rendah lebih mungkin terjadi pergerakan harga yang terjebak dalam kisaran terbatas alias ranging/sideways. Akan sulit menemukan pergerakan harga yang menembus level support dan breakout (resisten kunci). Justru Anda harus waspada akan fake saat breakout
  4. Saat harga masih bergerak sideways, ada baiknya untuk mengulangi posisi trading yang telah sukses. Jangan lakukan trading dua arah, tapi pilih yang searah dan sesuai tren
  5. Dalam volatilitas rendah, Anda harus benar-benar ekstra waspada terhadap perilisan data yang bakal berdampak tinggi. Bisa-bisa volatilitas meledak seketika yang bisa membuat batas Stop Loss dan Take Profit jadi runyam

Selain tips-tips di atas, pastikan betul kalau Anda sangat memperhatikan Money Management saat trading di kala volatilitas rendah. Jika perlu, tingkatkan toleransi risiko dengan membuat jarak Stop Loss makin lebar. Kenapa harus begitu? Sebagai langkah antisipasi jika volatilitas mendadak melambung.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Volatilitas Rendah

kesalahan trading saat volatilitas rendah
© usgfx

Jika dibandingkan, sebetulnya kondisi pasar forex saat volatilitas rendah lebih menguntungkan trader. Bahkan DailyFX melakukan penelitian yang menyebutkan kalau banyak trader justru sukses meraup untung, lebih lagi jika volatilitas rendah terjadi sehari penuh. Kok bisa begitu? Karena level support dan resistance yang kuat serta konsisten.

Saat dua hal itu stabil, trader bisa menerapkan strategi pullback dengan nyaman. Seharusnya memang bikin untung memang, tetapi ada saja trader yang malah melakukan kesalahan waktu trading dalam kondisi volatilitas rendah. Seperti apa? Berikut beberapa di antaranya:

1. Pakai Strategi Trend-Following

Disebutkan bahwa saat volatilitas rendah, Anda menggunakan strategi yang sesuai dengan kondisi pasar alias mengikuti tren. Hal ini tidak salah, tapi yang bikin masalah ketika Anda memakai strategi itu secara terus-menerus tanpa memperhatikan kondisi pasar itu sendiri waktu entry, seperti dilansir Seputar Forex.

Wajib diperhatikan bahwa strategi trading tak bisa diterapkan dalam dua kondisi pasar yang berbeda sekaligus seperti trending dan ranging. Supaya bisa makin peka dalam mengenali volatilitas, Anda dapat menggunakan indikator ATR (Average True Range) dan ADX (Average Directional Index). Saat ada yang berubah, langsung ganti strategi.

2. Stop Loss dan Entry Berdekatan

Mayoritas dari Anda mungkin berpikir bahwa risiko ditentukan dari perbedaan pip level entry dan level Stop Loss (SL). Apa itu benar? Jawabannya adalah keliru. Karena risiko sebetulnya nilai uang yang harus direlakan menguap saat strategi tidak berjalan. Untuk itulah, risiko ditentukan oleh nilai uang, alih-alih besaran pip.

Berangkat dari fakta itu, trader seharusnya mengatur besaran SL sesuai dengan besaran nilai uang yang bisa Anda relakan. Jika level SL dipasang sangat dekat dengan entry, maka justru bisa bikin tidak tenang.

Baca juga: Mengenal Social Trading, Platform Trading yang Cocok untuk Investor Pemula

3. Tidak Sabaran

Dan inilah kesalahan terakhir yang kerap dilakukan trader saat volatilitas rendah. Yap, trader akan sulit untuk menahan rasa sabar lantaran harga bergerak sangat lambat. Hal ini terjadi karena tak bisa dipungkiri, trader ingin segera meraih untung.

Padahal dalam volatilitas rendah, kondisi pasar cenderung ranging yang membuat harganya melambat. Bagi Anda yang tidak sabar, coba pasang lot dengan ukuran lebih kecil saat entry. Dengan begitu, Anda bisa lebih santai saat memperhatikan pergerakan harga pasar.

Kesimpulan

Melihat ulasan di atas, terbukti kalau volatilitas memang memegang peranan cukup penting dalam trading forex. Sebagai trader, Anda tentu mengharapkan keuntungan besar dan risiko kecil. Namun lantaran hal itu tak akan mungkin terjadi, ada baiknya untuk mempelajari volatilitas saja supaya bisa menentukan wak dan nilai trading yang tepat. Dengan begitu, Anda bisa meraup keuntungan sesuai perkiraan.