Ini Resiko Bagi Amerika Jika Dollar Semakin Menguat!

Dollar sedang menuju titik terkuat mereka selama satu dekade, namun siapa sangka jika ini resiko bagi Amerika jika dollar semakin menguat!

Semakin naiknya dollar pada beberapa bulan ini tentu berdampak bukan hanya untuk Indonesia tapi seluruh dunia.

Yaitu meningkatnya nilai tukar mata uang lain terhadap dollar Amerika Serikat yaitu dolar.

Meski hari ini ekonomi global sedang dalam situasi yang tidak baik-baik saja, begitu juga dengan Amerika Serikat yang sedang berjuang untuk keluar dari jurang resesi.

Tapi ketika kita melihat harga dollar mungkin akan bingung, kenapa disaat kondisi yang tidak baik-baik saja seperti ini malah dollar semakin kuat.

Apa penyebabnya? siapa dalangnya? Kenapa ini semua bisa terjadi?

Apakah ini ulah elite global? ulah Illuminati? Atau organisasi The New World Order?

Semua jawaban dari kebingungan Anda bisa ditemukan dalam pendekatan makro ekonomi, jadi tidak perlu teori-teori konspirasi semacam itu.

Teori Dollar Smile

Kita mulai dari sebuah teori yang bernama dollar smile, mengapa disebut seperti ini?

Karena Memang bentuk kurva ini melengkung seperti sebuah senyuman, ini adalah grafik yang menggambarkan dua spektrum ekonomi yang bisa meningkatkan value dari dollar.

Kurva pertama saat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sedang bagus, artinya pertumbuhan ekonomi yang bagus menjanjikan keuntungan lebih besar bagi para investor.

Hal ini tentu sudah diketahui oleh teman-teman ya, keadaan ini sering disebut sebagai Grid mode.

Ini Resiko Bagi Amerika Jika Dollar Semakin Menguat!

Kurva kedua dibentuk atas kondisi di mana perekonomian global itu dalam keadaan yang penuh dengan ketidakpastian, penuh dengan guncangan dan penuh dengan turbulensi.

Mode ini disebut juga sebagai fire mode, kemudian dollar Amerika dianggap sebagai tempat berlindung yang aman karena dolar digunakan hampir 90% dari total transaksi ekonomi global.

Bahkan digunakan pada transaksi yang tidak melibatkan Amerika Serikat sama sekali.

Dollar Amerika juga digunakan oleh 149 negara di dunia untuk menyimpan cadangan devisa dan disimpan oleh bank sentral.

Sehingga porsi penggunaan Dollar jauh melampaui porsi penggunaan mata uang yang lain.

Itulah kenapa dollar sangat atraktif dan semua yang atraktif tentu mempengaruhi supply dan demand dari masyarakat global.

Resiko Dibalik Menguatnya Dollar Amerika!

Keadaan ini sebenarnya sangat menguntungkan Amerika Serikat selama ini, karena mereka punya kekuatan yang besar pada pasar global.

Karena dengan keadaan dolar yang kuat, mereka punya kekuatan politik yang besar untuk menekan , mengambil kebijakan, menjatuhkan sanksi ataupun hukuman.

Amerika melalui The Fed juga dengan mudahnya mengambil keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan seperti yang dilakukan pada pertengahan 2022.

Fungsi dari suku bunga acuan adalah mengendalikan peredaran mata uang di suatu negara

Analogi sederhananya seperti ini, suku bunga acuan itu seperti keran air yang ketika itu dilonggarkan maka air yang akan mengucur itu deras.

Ketika itu diperketat atau ditutup maka hanya sedikit air yang akan meluncur atau bahkan tidak ada sama sekali.

Begitulah cara suku bunga acuan bekerja, jadi ketika suku bunga acuan itu diturunkan misalnya mencapai level 0% maka peredaran uang di sebuah negara itu akan sangat-sangat banyak.

Itulah yang lumrah disebut sebagai kuantitatif easing supaya ekonomi di sebuah negara tetap berputar.

Dengan peredaran uang lebih banyak maka pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dan angka kemiskinan bisa lebih ditekan karena orang-orang punya duit.

Namun pada sisi lain, hal tersebut bisa menimbulkan inflasi harga-harga barang semakin naik karena supply dan demand yang tidak seimbang.

Ketika ini tidak bisa dikendalikan maka akan terjadi masalah baru, yaitu hiper inflasi.

Maka sebagaimana Anda mematikan keran saat ember sudah penuh, ketika suku bunga sudah dirasa cukup maka harus segera dihentikan.

The Fed merasa quantitave easing yang dilakukan pada tahun 2021 sudah cukup, sekarang waktunya kembali mengerek suku bunga.

Jika semakin tinggi suku bunga maka peredaran uang akan semakin sedikit artinya nilai dari mata uang itu akan naik.

Selain itu dengan suku bunga yang semakin tinggi akan memberikan keuntungan bagi para investor.

Karena ketika suku bunga naik maka berinvestasi pada obligasi milik pemerintahan Amerika Serikat adalah hal yang menggiurkan.

Setiap kenaikan suku bunga akan diiringi Capital outflow di pasar negara berkembang, di pasar alternatif kayak cryptocurrency dan lain sebagainya.

Situasi ekonomi global juga masih porak poranda, perang Rusia-Ukraina, penurunan pendapatan China, melonjaknya hutang Jepang, ini semua semakin memperkuat posisi dan keadaan dolar Amerika.

Pertanyaannya, sampai kapan ini semua akan terjadi?

Kita akan melihat data dan fakta sejenak, pada pertengahan 2022 The Fed menaikkan suku Bungan berkisar antara 3 sampai 32,5%.

Kemudian The Fed sudah mengambil ancang-ancang kalau di akhir tahun mereka akan berusaha membuat suku bunga itu naik hingga 4,25% sampai 4,5%.

Artinya kenaikan dollar ini akan terus terjadi dalam jangka waktu dekat ini setidaknya hingga akhir tahun atau Kuartal 1 2023.

Kenapa demikian, karena sebenarnya nilai dollar semakin menguat tidak 100% menguntungkan Amerika Serikat.

Padahal kalau kalau mereka pergi melancong ke negara lain mereka akan mengeluarkan biaya lebih murah.

Ketika mereka melakukan impor mereka akan membayar lebih murah dan ketika mereka melakukan ekspor mereka akan mendapatkan uang yang lebih banyak.

Tapi pada sisi lain, harga yang terlampau tinggi itu tidak reachable alias tidak bisa dijangkau oleh pembeli dari negara lain.

Memang harganya makin naik tapi belum tentu calon pembeli mempunyai kesanggupan untuk membeli dan ini sudah menjadi masalah untuk perusahaan-perusahaan besar di Amerika seperti Apple, Coca-Cola, Microsoft dll.

Baca juga: Strategi Hedging Untuk Melindungi Uangmu Dari Fluktuasi

Jika dollar semakin menguat terus-menerus, maka akan banyak perusahaan Amerika yang jatuh dan bangkrut.

Hal ini yang harus dicarikan solusi oleh Amerika Serikat dan The Fed, mereka harus mengambil tindakan untuk mengendalikan nilai dari dollar semakin menguat.

Karena keadaan dollar yang semakin menguat hingga terlampau kuat akan menggoyangkan perekonomian mereka sendiri, ini sama artinya dengan bunuh diri!