Prospek Cuan Kontruksi Ditengah Suku Bunga Tinggi

COPYTRADE – Bank Indonesi ( BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 basis poin, dan mengerek tigkat suku bunga menjadi 5,25 persen. Seiring kenaikan suku bunga tersebut apakah sektor konstruksi masih berpotensi tumbuh cerah atau justru melandai.


Era suku bunga rendah memang telah berakhir, setelag BI menaikkan suku bunga acuan. Seiring kenaikan tingkat suku bunga tersebut, tentu perbankan akan ikut menaikan suku bunga pinjaman.

Tak hanya suku bunga KPR yang bakal terkerek naik, tak terkecuali sektor kontruksi yang bakal ikut terdampak.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kenaikan suku bunga acuan harus dilakukan. Hal itu untuk membendung inflasi yang terus naik. Ketidak stabilan ekonomi global, kerawanan pangan hingga perang Rusia Ukraina menjadi poin penyebab ketidak stabilan.

Sebagai upaya menjaga stabilitas BI juga mengambil kebijakan bauran moneter. Selain mengendalikan inflasi, kebjiakan tersebut sekaligus diupayakan menjaga stabilitas dari tekanan barang impor yang masih tinggi.

Dari sejumlah sumber yang digali, kenaikan suku bunga ini menjadi warning tersendiri bagi pelaku bisnis kontruksi. Sebab sektor ini memang selalu mengandalkan

pembiayaan bank. Selain kebutuhan yang besar, perbankan memang punya peran yang cukup strategis dalam sektor kontruksi.

Jika suku bunga tinggi, maka beban menjadi semakin berat dan ini tentu dapat ber efek negatif. Selain pembiayaan bank, sektor konstruksi juga kerap mengandalkan refinancing untuk pengembangan proyek.

Meski dibayangi prospek negatif, namyn nyatanya beberapa emiten kontruksi masih bisa mencatatkan kinerja positif.

Emiten Kontruksi tersebut memang didominasi oleh Badan Usaha Milik Negara ( BUMN). Laporan kinerja kuartal III 2022 ini menunjukkan kinerja yang cukup positif.

Namun dampak kenaikan suku bunga ini memang tidak akan langsung terasa, kuartal ke II 2023 patut diwaspadai, jika produk pendukung pabrikan mengalami kenaikan harga. Khususnya beberapa produk yang bergantung impor.

Beberapa emiten kontruksi tersebut yakni

PT Adhi Karya misalnya, berhasil membukukan laba Rp 21 miliar. Laba ini naik 24 persen dari periode yang sama di tahun 2021.Hal itu menunjukkan peningkatan pertumbuhan sebesar 23,54 persen menjadi 9,1 triliun dari periode 2021 sebesar Rp 7,4 Triliun.

PT Pembangunan Perumahan PP Tbk berhasil mencetak laba sebesar Rp 141,02 milar, naik 20 persen dibanding 2021 menjadi 13,45 triliun.

Selanjutnya ada PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) yang membukukan kenaikan penjualan 9,8% menjadi Rp 12,79 triliun di kuartal III-2022. Kenaikan ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yang hanya senilai Rp 11,64 triliun.

Menurut Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito, kontribusi terbesar berasal dari sektor kontruksi yakni infrastruktur dan bangunan gedung.

Kemudian disusul segmen industri, energi, industrial plant, dan segmen properti.
Pendapatan WIKA tumbuh 29,7% secara tahunan menjadi Rp 865,5 miliar.

Selain BUMN diatas, masih ada lagi yakni proyek penunjang G20 seperti Revitalisasi Terminal VVIP Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta. Revitalisasi Terminal VVIP Bandar Udara International I Gusti Ngurah Rai Bali.

WIKA juga meraih kontrak baru senilai Rp 25,5 triliun. Ini termasuk proyek Ibu Kota Nusantara (IKN).

Kemudian PT Waskita Karya Tbk (WSKT) sukses mencatatkan pendapatan naik 44,66% menjadi Rp 10,3 triliun. Dibandingkan pada kuartal III-2022 dari periode 2021 yang hanya senilai Rp 7,12 triliun.

Sedangkan laba bersih WSKT melesat tajam 766,6% menjadi Rp 578,17 miliar. Jika dibandingkan kuartal III-2021 di yang hanya sebesar Rp 66,71 miliar.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Bidang Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat dan Infrastruktur Kadin Ihsannul Kamil mengaku optimis sektor konstruksi masih tumbuh.
Meskipun menghadapi ancaman inflasi, kenaikan suku bunga, dan tahun politik, namun masih ada harapan, bahwa setelah pelonggaran pasca pandemi, kontruksi masih bisa tumbuh.

Hal lain yakni peluang proyek baru yang sempat terhenti selama pandemi.

Proyek Ibu Kota Negara (IKN) juga menjadi harapan baru yang dapat menyelamatkan sektor kontruksi.

WIKA juga dipercaya menggarap proyek Istana Presiden dan kantor presiden IKN bersama PT Pembangunan Perumahan PP Tbk.


Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito menyebut, beberapa pekerjaan fasilitas lainnya seperti Perumahan juga menambah peluang.

Sementara itu, WSKT memenangkan tender proyek IKN. Proyek yang dimenangkan adalah Gedung Sekertariat Presiden dan Bangunan Pendukung pada Kawasan Istana Kepresidenan. Dengan nilai kontrak sebesar Rp 1,35 triliun.

Proyek Non-KSO akan dibangun pada tanah seluas 50,678 m2 dan akan dilaksanakan selama 2 tahun.

Proyek sebelumnya, yakni infrastruktur konektivitas, diantaranya Jalan Tol dan Jalan Nasional di IKN dengan nilai Rp 2,4 T.

Dengan tender proyek Gedung Setneg, Waskita telah memenangkan tender proyek IKN total mencapai Rp 3,75 triliun.