Imbas Covid-19, Perekonomian Jepang Jatuh ke Jurang Resesi

perekonomian Jepang jatuh ke jurang resesi

Menuju penghujung bulan Mei 2020, dunia tampaknya masih harus bertahan dari serangan Covid-19. Penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini memang benar-benar membuat peradaban manusia berubah. Berawal di Wuhan, China, Covid-19 sudah menyerang penduduk seluruh dunia dan menjangkiti lebih dari 4,87 juta orang di Bumi.

Perekonomian adalah sektor yang paling dibuat remuk oleh Covid-19 selain kesehatan tentunya. Pemberlakuan lockdown di berbagai negara membuat banyak orang kehilangan penghasilan. Bukan hanya negara-negara tertinggal atau negara berkembang seperti Indonesia, negara-negara maju pun ikut muram karena Covid-19.

Salah satunya adalah negara maju yang menjadi penggerak perekonomian dunia asal Asia yakni Jepang. Sampai Rabu (20/5) pagi, Jepang sudah melaporkan 16.367 kasus positif Covid-19 dengan 11.564 di antaranya sudah sembuh dan 768 lain meninggal dunia. Sehingga kalau dihitung, tinggal 4.035 pasien Covid-19 yang dirawat di Jepang.

Kendati jauh lebih baik kondisinya dibandingkan Indonesia atau Amerika Serikat sekalipun, pemerintah Jepang rupanya siap dengan segala kemungkinan terburuk. Termasuk bagaimana jika Jepang akhirnya harus tergelincir ke jurang resesi ekonomi gara-gara wabah corona.

Baca juga: Small Caps, 5 Emiten ini Harga Sahamnya Melambung Selama Sepekan

Apa Sih Resesi Ekonomi itu?

aktivitas warga di Tokyo
© Asiatimes

Sebelum wabah corona mengambil alih perhatian dunia seperti saat ini, banyak ahli ekonomi yang memprediksi kalau resesi global bakal terjadi pada tahun 2020. Hal ini terlihat dari banyaknya bank-bank sentral yang memilih untuk memangkas suku bunga mereka, termasuk Amerika Serikat. Sehingga mau tak mau seluruh masyarakat dunia harus bersiap dengan resesi ekonomi.

Memangnya, apa sih resesi ekonomi itu?

Secara mudahnya, resesi ekonomi adalah kelesuan ekonomi. Kondisi ini terjadi saat Produk Domestik Bruto (PDB/GDP) menurun atau pertumbuhan ekonomi riil tercatat negatif selama dua kuartal berturut-turut, alias lebih dari setahun. Saat resesi terjadi, tentunya seluruh kegiatan ekonomi mengalami penurunan seperti investasi, lapangan kerja sampai profit perusahaan.

Bisa ditebak, kalau kegiatan ekonomi utama mulai anjlok, bakal terjadi efek domino hingga di tingkat perekonomian terendah. Hal ini pun membuat tingkat pengangguran makin meningkat karena banyak perusahaan mengurangi jumlah produksi, akibat investasi berkurang. Ketika banyak orang kehilangan pekerjaan, daya beli di masyarakat jelas bakal menurun.

Kondisi ini akhirnya membuat deflasi (turunnya harga-harga produk/komoditas dalam negeri) atau inflasi (naiknya harga-harga produk/komoditas dalam negeri) terjadi di saat resesi. Jika pemerintah sebuah negara tidak menemukan solusi secepatnya, resesi akan menjadi makin parah dan menimbulkan depresi ekonomi. Negara yang mengalami depresi ekonomi bisa mengalami kebangkrutan atau kolaps sehingga pemulihannya makin berat.

Banyak Negara di Dunia yang Pernah Alami Resesi

Dalam catatan sejarah, rupanya cukup banyak negara-negara di dunia yang mengalami resesi. Bahkan di era tahun 2008-2009 silam, ada belasan negara Uni Eropa yang memasuki jurang resesi seperti Prancis, Spanyol, Yunani, Irlandia, Portugal, Italia hingga Siprus.

Salah satu negara di Asia Tenggara yakni Thailand pun sempat merasakan kelamnya resesi ekonomi pada satu dekade silam. Sama halnya seperti Jepang, Rusia sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia dan dianggap negara maju pun pernah mengalami resesi ekonomi pada 2015, seperti dilansir Simulasi Kredit.

Baca juga: Pandemi Dianggap Masa Lalu, Wall Street Kembali Menghijau

Resmi Masuki Resesi Ekonomi, Apa yang Terjadi di Jepang?

kondisi jalanan di Jepang yang sepi
© Issei Kato, Reuters

Kembali lagi ke kabar resesi yang dialami Jepang, rupanya kondisi ini sudah terlihat sejak lima tahun silam. Jauh sebelum Covid-19 meledak seperti sekarang, PDB Jepang terus menurun meskipun akhirnya kemerosotan semakin terjadi akibat wabah corona.

Para ahli ekonomi memprediksi kalau perekonomian Jepang bakal anjlok pada kuartal II-2020. Bahkan pada kuartal I-2020, PDB Jepang mengalami kontraksi tahunan 3,4%. Hal ini diungkapkan oleh Yuichi Kodama selaku Kepala Ekonom Institusi Penelitian Meiji Yasuda, seperti dilansir Reuters.

Sempat cukup bisa mengendalikan laju Covid-19 pada bulan Maret, Jepang saat ini harus kembali lagi bertarung dengan wabah corona. Ada puluhan prefektur di seantero Jepang yang melaporkan kasus positif dengan ibukota Jepang yakni Tokyo tercatat tertinggi mencapai 5.065 kasus, serta 241 di antaranya meninggal kemudian.

Total kasus positif di Tokyo ini memang sangat tinggi apalagi kalau dibandingkan kota-kota besar lainnya. Bahkan Osaka yang menjadi kota tertinggi kedua soal Covid-19 di Jepang ‘cuma’ mempunyai 1.771 kasus positif. Selain Tokyo dan Osaka, kota-kota utama lain di Jepang yang terjangkiti wabah corona adalah Kanagawa, Hokkaido, Saitama, Chiba, Hyogo, Fukuoka, Kyoto sampai Hiroshima.

Sebagai negara yang sangat bergantung pada perdagangan internasional, kebijakan lockdown karena Covid-19 di banyak negara dunia membuat perekonomian Jepang makin muram. Sekadar informasi, ekspor Jepang tergelincir sebesar 6% pada kuartal I-2020 yang disebabkan oleh menurunnya kapasitas ekspor ke Amerika Serikat, terutama dari industri mobil.

Hal inilah yang akhirnya membuat raksasa otomotif asal Jepang yakni Toyota Motor Corp melakukan penyesuaian. Pabrikan mobil yang berpusat di Toyota, prefektur Aichi ini pun akhirnya memutuskan untuk mengurangi total produksi pada bulan Juni 2020 sebesar 122 ribu unit. Sekadar informasi, total kasus positif di prefektur Aichi sejauh ini mencapai 509 orang dengan 34 di antaranya meninggal dunia.

Memahami bahwa daya beli masyarakat dunia terhadap mobil menurun, Toyota pun tidak mengoperasikan seluruh pabriknya. Perusahaan yang memiliki brand kendaraan Toyota, Hino, Lexus, Ranz dan Daihatsu ini pun siap dengan kemungkinan bahwa laba operasi tahunan mereka anjlok hingga 80%. Apalagi sejak April kemarin, Perdana Menteri Shinzo Abe sudah mengumumkan keadaan darurat nasional yang membuat banyaknya aktivitas bisnis ditutup.

Banyak yang memprediksi bahwa perekonomian Jepang akan makin menyusut hingga 22% secara tahunan pada kuartal saat ini. Tentunya jika itu terjadi, bakal menjadi yang terburuk sejak Depresi Hebat tahun 1930-an. Supaya perekonomian mampu bertahan saat resesi, Bank of Japan mengeluarkan US$1,1 triliun untuk paket stimulus. Abe pun bakal menggelontorkan anggaran tambahan kedua pada akhir Mei 2020 dalam mengatasai dampak buruk Covid-19.

Baca juga: Jenis-Jenis Investasi yang Mampu Bertahan Saat Pandemi Covid-19

Yen Masih Bertahan Meski Jepang Resesi

kondisi pasar di Jepang
© Issei Kato, REUTERS

Dengan kepastian bahwa PDB Jepang mengalami resesi, banyak yang ikut memprediksi bahwa nilai tukar yen (JPY) akan anjlok pula. Apalagi pada awal perdagangan hari Senin (18/5) kemarin, yen sempat melemah 0.24% terhadap rupiah. Namun sekitar pukul 10.46 WIB, yen kembali menguat 0.13% di pasar spot, seperti dilansir Refinitiv.

Hanya saja kondisi berbeda terjadi terhadap dolar AS. Di mana di saat yang sama, yen justru melemah 0.08% terhadap mata uang asal Amerika Serikat itu. Memang seperti yang sudang dijabarkan lengkap sebelumnya, pandemi Covid-19 membuat Jepang resmi memasuki masa resesi teknikal lantaran PDB negatif selama dua kuartal berturut-turut secara QoQ (Quarter-on-Quarter).

Di saat perekonomian Jepang terus merosot hingga disebut-sebut bakal terburuk sejak Perang Dunia II, kurs yen tampaknya tidak terlalu bergejolak. Bahkan ada kemungkinan kalau yen bakal menguat karena mata uang kebanggaan Jepang ini dianggap aset aman (safe haven), lebih baik daripada dolar AS. Semua ini terjadi karena Jepang adalah negara kreditur terbesar di dunia.

CNBC International melaporkan kalau total aset asing yang dimiliki pemerintah, kalangan swasta hingga individual Jepang menyentuh US$3,1 triliun (per 2018). Dari data yang dirilis Kementerian Keuangan Jepang itu, Jepang akan masih mampu bertahan hingga 28 tahun berturut-turut. Apalagi ketika perekonomian global memburuk, investor-investor Jepang bakal menarik dana mereka dari luar negeri. Sehingga akhirnya arus modal kembali ke Jepang dan yen menguat.

Tingkat Pengangguran di Jepang Bertambah

para pekerja di Jepang
© Kyodo/REUTERS

Bukti bahwa resesi ekonomi tidak akan membuat yen Jepang hancur dengan mudah sebetulnya sudah terlihat sejak akhir April kemarin. Saat itu JPY sampai menyentuh Rp144 yang artinya menguat 0.88% di pasar spot, kendati masih melemah 0.07% terhadap dolar AS. Padahal kondisi tersebut terjadi ketika tingkat pengangguran di Jepang diumumkan meningkat.

Dari data yang diungkapkan Biro Statistik Jepang, tingkat pengangguran bulan Maret 2020 naik 0.1% jadi 2.5% dari 2.4%, posisi tertinggi selama setahun ini, seperti dilansir CNBC Indonesia. Namun yang cukup membanggakan, tingkat pengangguran di Jepang bisa dibilang sangat rendah dibandingkan negara maju lain sehingga sama sekali tak mempengaruhi yen.

Tapi meskipun begitu, resesi ekonomi tetap akan dialami oleh Jepang apalagi jumlah lapangan pekerjaan jadi yang terendah sejak September 2016. Kondisi muram di sektor tenaga kerja Negeri Sakura ini memang sudah sesuai prediksi, sehingga roda perekonomian Jepang melambat secara signifikan akibat ulah pandemi Covid-19.

Apakah Indonesia Bakal Resesi Ekonomi?

masyarakat umum di Jepang
© Reuters

Tak bisa dipungkiri bahwa pandemi Covid-19 membuktikan kalau seluruh negara terkena imbasnya. Bahkan negara sekuat Jepang pun sampai mengalami minus 0.9% pada perekonomiannya di kuartal I-2020. Kendati lebih rendah daripada proyeksi analis yang sampai 1.2%, tetap saja terbukti kalau tak ada yang kebal terhadap wabah corona ini.

Bahkan Perry Warjiyo selaku Gubernur Bank Indonesia (BI) menyebutkan jika perekonomian dunia akan terus tumbuh negatif alias kontraksi di sepanjang tahun ini hingga kuartal III-2020. Risiko resesi perekonomian global semakin tak bisa diacuhkan karena beberapa indikator seperti kinerja manufaktur hingga harga komoditas terus menurun.

Bac a juga: Menakar Kemungkinan Uang Digital sebagai Mata Uang Resmi

Lantas, bagaimana dengan nasib Indonesia? Apakah Indonesia bakal resesi ekonomi juga? Apakah Indonesia bisa sekuat Jepang nantinya?

Atas pertanyaan itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani sempat memberikan prediksi yang cukup mengkhawatirkan. Menurut mantan Direktur Bank Dunia itu, pandemi Covid-19 memang membuat angka pengangguran di berbagai negara melonjak hingga double digit. Sri menyebutkan bawha beberapa mitra dagang utama Indonesia pun akhirnya mengalami resesi yang juga berdampak ke Indonesia.

Hal ini diperkuat pendapat mantan Menteri Keuangan sekaligis ekonom, Chatib Basri. Seperti dilansir Kontan, Chatib meramal bahwa Indonesia bisa saja mulai memasuki masa resesi pada kuartal II-2020 (April-Juni). Pelemahan aktivitas konsumsi yang menyumbangka PDB terbanyak akan membuat perekonomian Indonesia tumbuh negatif.

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang memilih melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), perekonomian Indonesia akan selalu ada dalam masa sulit selama vaksin Covid-19 belum ditemukan. Untuk itulah supaya perekonomian Indonesia tetap mampu bertahan dan pulih lagi, dibutuhkan dukungan dari seluruh pihak termasuk mematuhi anjuran protokol kesehatan.

Scroll to Top