Penerapan New Normal, Dunia Usaha Bakal Dimulai Usai Lebaran

new normal di Indonesia

Sejak kasus pertama kali terdeteksi di Indonesia pada 2 Maret 2020 lalu, berarti artinya sudah hampir tiga bulan kita ‘bertarung’ dengan Covid-19. Apakah perjuangan sudah diakhiri dengan kemenangan? Sepertinya masih belum karena hingga Kamis (21/5) sore kemarin, sudah lebih dari 20 ribu kasus positif Covid-19 terjadi di Indonesia.

Dengan jumlah kasus yang masih terus meningkat dan belum tampak terkendali, Indonesia memang terbilang terlambat dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Carut marutnya penanganan Covid-19 baik di kalangan pemerintah pusat hingga daerah semakin menunjukkan jika wabah corona ini tampaknya bakal masih lama untuk usai.

Tak heran kalau akhirnya semakin banyak saja daerah-daerah yang memilih dan memperpanjang kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dengan adanya PSBB, sudah pasti berbagai kegiatan ikut terganggu yang akhirnya berimbas buruk kepada perekonomian masyarakat. Banyak lapangan pekerjaan terpaksa berhenti dan pusat-pusat bisnis ditutup yang membuat banyak orang kehilangan pekerjaan.

Kalau kondisi seperti ini terus-menerus terjadi, bukan tak mungkin jika akhirnya Indonesia bakal mengalami resesi ekonomi. Bahkan negara semaju Jepang saja, telah mengumumkan bahwa mereka tergelincir ke jurang resesi karena PDB (Produk Domestik Bruto) yang negatif selama dua kuartal berturut-turut. Di tengah kekhawatiran resesi dan makin banyaknya pasien positif Covid-19, pemerintah kabarnya ngotot untuk menerapkan new normal dalam seluruh sendi kehidupan.

Baca juga: Imbas Covid-19, Perekonomian Jepang Jatuh ke Jurang Resesi

Apa Sih New Normal itu?

memahami new normal

Menurut penuturan Wiku Adisasmita selaku Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, new normal adalah sebuah istilah yang merujuk pada perubahan perilaku masyarakat. Di mana perilaku ini bertujuan agar tetap bisa menjalankan berbagai aktivitas normal, sembari menerapkah protokol kesehatan supaya tidak menularkan dan tertular Covid-19.

Apa yang diungkapkan Wiku ini pun ditegaskan oleh Ahmad Yurianto, Juru Bicara Pemerintah terkait Penanganan Covid-19. Dalam paparannya, new normal adalah perilaku di mana menjaga jarak dan menggunakan masker bakal jadi bagian kehidupan sehari-hari. Karena itulah, new normal bukannya pelonggaran PSBB, seperti dilansir Detik.

Hanya saja jika melihat anjuran WHO (Badan Kesehatan Dunia), new normal ini cuma efektif diterapkan di negara-negara yang telah berhasil mengendalikan laju penyebaran Covid-19. Seperti yang diketahui, Indonesia bahkan mencatat pertambahan kasus positif Covid-19 tertinggi sepanjang hampir tiga bulan terakhir pada hari Kamis (21/5) kemarin.

Dilaporkan, kemarin ada lebih dari 900 kasus Covid-19 baru dengan 500 di antaranya berasal dari Jawa Timur. Dengan fakta demikian, apakah mungkin new normal bisa diberlakukan di Indonesia tanpa ada masalah? Bak makan buah simalakama, Indonesia juga harus bersiap-siap pada resesi karena pertumbuhan ekonomi yang di bawah harapan.

Indonesia di Ujung Jurang Resesi

Ancaman bahwa perekonomian Indonesia bakal sangat terpuruk akibat wabah corona sepertinya bukan sekadar isapan jempol. Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Indonesia menyebutkan kalau saat ini, perekonomian Tanah Air benar-benar muram. Semenjak bulan Maret, sudah ada lebih dari enam juta orang dirumahkan dan di-PHK akibat pandemi Covid-19.

Rosan Roeslani selaku Ketua Umum Kadin Indonesia pun berkomentar jika Indonesia mengalami kontraksi. Apalagi pada kuartal I-2020, data menyebutkan kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia cuma 2,97%, jauh di bawah angka proyeksi pemerintah yakni 4,5-4,7%. Karena itulah Rosan menyebutkan kalau kuartal II-2020 bakal jauh lebih berat karena bisa saja malah negatif 3-5%.

Baca juga: Pandemi Dianggap Masa Lalu, Wall Street Kembali Menghijau

Data ini diperoleh lantaran pertumbuhan ekonomi didominasi oleh konsumsi domestik (57%), investasi (32%), belanja pemerintah (7-8%) dan ekspor impor. Lantaran wabah corona, konsumsi domestik yang memberikan pengaruh menjadi anjlok. Daya beli masyarakat menurun akibat banyak orang kehilangan pekerjaan. Lantaran ancaman itu, tak heran kalau akhirnya pemerintah benar-benar ngotot jika new normal harus mulai dijalankan usai Idul Fitri.

Bulan Juni, Indonesia Siap Memasuki New Normal

penerapan new normal di Indonesia
© The Star

Melalui Kemenko Perekonomian, pemerintah kini tengah menyiapkan kajian awal demi memulihkan stabilitas perekonomian nasional usai pandemi Covid-19. Lantaran tidak ada yang tahu kapan vaksin Covid-19 ini bisa ditemukan, negara-negara harus sadar bahwa perekonomian wajib terus berdetak.

Menurut Raden Edi Prio Pambudi selaku Staf Ahli Bidang Konektivitas, Pengembangan Jasa dan SDM, kegiatan ekonomi yang berhenti terlalu lama bisa menambah jumlah pengangguran sehingga Indonesia benar-benar terjerumus ke resesi. Kendati begitu, tetap mempertimbangkan kesiapan dunia usaha, lingkungan kerja dan karyawan dalam memenuhi protokol kesehatan, seperti dilansir CNBC Indonesia.

Seperti inilah gambaran kajian awal Kemenko Perekonomian yang rencananya bakal dilakukan oleh pemerintah Indonesia secara bertahap

Fase 1 – 1 Juni 2020

  • Industri dan jasa Bisnis ke Bisnis (B2B) bisa dimulai dengan menerapkan social distancing (jaga jarak) dan protokol kesehatan (memakai masker)
  • Toko, pasar dan mall belum boleh dibuka kecuali toko penjual fasilitas kesehatan
  • Sektor-sektor kesehatan (rumah sakit, klinik, apotek) bisa dibuka dengan tetap memperhatikan kapasitas
  • Kegiatan sehari-hari di luar rumah tetap dilarang berkumpul ramai termasuk olahraga. Untuk kegiatan di dalam ruangan, maksimal dua orang

Fase 2 – 8 Juni 2020

  • Toko, pasar dan mall boleh beroperasi tanpa terkecuali tetapi tetap dengan protokol ketat. Pengelola harus mengatur job desk termasuk pelayanan konsumen dan membatasi jumlah pengunjung
  • Bisnis dengan kontak fisik seperti salon, spa dan lain-lain masih belum boleh buka
  • Kegiatan berkumpul ramai dan olahraga di luar ruangan masih belum diizinkan

Fase 3 – 15 Juni 2020

  • Toko, pasar dan mall bisa melanjutkan pengoperasiannya seperti fase dua. Sementara untuk usaha salon, spa dan lainnya masih tetap memberlakukan protokol kesehatan yang ketat
  • Acara kebudayaan (pembukaan museum dan aksi pertunjukkan) boleh diselenggarakan dengan tetap menjaga jarak dan penjualan tiket online
  • Kegiatan pendidikan di sekolah sudah bisa dimulai tapi harus tetap bergantian (sistem shift) sesuai jumlah kelas
  • Olahraga di luar ruangan bisa dilakukan sambil tetap mengikuti aturan kesehatan
  • Event pernikahan, ulang tahun dan kegiatan sosial dengan kapasitas lebih dari 2-10 orang sudah bisa dilakukan

Fase 4 – 6 Juli 2020

  • Kegiatan ekonomi di fase tiga tetap berjalan dengan evaluasi
  • Restoran, kafe, bar, tempat gym dan lain-lain mulai dibuka secara bertahap sambil memperhatikan protokol kesehatan dan kebersihan yang ketat
  • Sudah diperbolehkan kegiatan di luar ruangan lebih dari 10 orang
  • Liburan/berwisata/bepergian ke luar kota sudah boleh dengan pembatasan penerbangan
  • Kegiatan-kegiatan ibadah di masjid, gereja, pura, vihara dan lain-lain sudah bisa dimulai sambil tetap dibatasi

Fase 5 – 20 dan 20 Juli 2020

  • Melakukan evaluasi atas kegiatan di fase empat dalam skala besar sambil membuka pusat-pusat perekonomian lainnya
  • Akhir Juli hingga awal Agustus diharapkan sudah mulai berjalannya seluruh kegiatan ekonomi sambil tetap mempertahankan protokol kesehatan dan kebersihan
  • Masih diperlukan evaluasi secara berkala hingga vaksin ditemukan

Baca juga: Small Caps, 5 Emiten ini Harga Sahamnya Melambung Selama Sepekan

Sektor-Sektor Bisnis Siap Mulai New Normal

penerapan new normal di Indonesia (1)
© Angkasa News

Menanggapi rencana mengembalikan stabilitas ekonomi usai Idul Fitri, kalangan pengusaha pun mendukung hal tersebut. Seperti dilansir CNN Indonesia, Adhi Lukman selaku Ketua Umum GAPMMI (Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia) pun mengungkapkan kalau berhentinya kegiatan usaha terlalu lama bisa membebani perekonomian.

Adhi pun sepakat bahwa daerah-daerah dengan data pertambahan Covid-19 yang mulai melandai bisa mulai membuka terlebih dulu aktivitas ekonominya. Jika merujuk pada riset LSI (Lingkaran Survei Indonesia) Denny JA, maka pelonggaran ekonomi bisa dimulai di DKI Jakarta, Kabupaten dan Kota Bogor, Bandung Barat serta Provinsi Bali karena menunjukkan tren penurunan kasus.

Begitu pula untuk para pelakunya, mereka dengan usia 45 tahun ke bawah dan tak punya penyakit bawaan (hipertensi, diabetes, jantung, ginjal dan paru-paru kronis) bisa memulai kegiatan ekonominya.

Tak berbeda jauh dengan dunia usaha, PT Angkasa Pura I (Persero) juga menyiapkan bahwa seluruh bandara yang dikelola bakal memberlakukan protokol new normal. Di mana dalam Pedoman Kesehatan Covid-19 dan timeline skenario new normal, akan melibatkan penumpang, maskapai, mitra komersial, kargo, publik hingga seluruh pemangku kepentingan bandara.

Agar penyebaran Covid-19 benar-benar bisa diputuskan, pemeriksaan penumpang internasional bakal makin ketat lewat cek suhu tubuh dengan thermal scanner serta thermal gun di seluruh bandara. Tak hanya menyediakan hand sanitizer dan penyemprotan disinfektan, petugas operasional bandara juga wajib menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti masker N95.

Kemenkeu Lakukan Terobosan FWS

Sambil membiasakan diri terhadap new normal, Kementerian Keuangan bahkan siap membuat rencana perubahan lingkungan kerja sekalipun pandemi Covid-19 berakhir. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, jajarannya memberlakukan terobosan FWS (Flexible Working Space) yang merupakan privilege, agar seluruh pegawai Kemenkeu bisa bekerja lebih produktif di mana saja.

Bahkan FWS ini sendiri sudah berlaku sejak 6 Mei 2020 dengan beberapa ketentuan. Di mana seluruh pegawai Kemenkeu (PNS, non PNS, PPPKI) bisa melakukan FWS asalkan memperoleh hasil baik dalam nilai presentasi kerja pegawai, tidak sedang menjalani hukuman disiplin dan tentunya bertanggung jawab serta responsif dalam berkomunikasi efektif.

Untuk melaksanakan FWS ini, para pegawai Kemenkeu bisa bekerja di ruang kerja bersama atau rumah masing-masing. Sementara untuk pekerjaan yang diprioritaskan untuk FWS adalah yang berkaitan dengan perumusan kebijakan, tak perlu harus bertemu langsung dengan pengguna layanan hingga bisa dilakukan secara online.

Baca juga: Terungkap, Inilah Rahasia Dapat 1000 Dolar dari Rumah Saja!

DKI Jakarta Jadi Percontohan New Normal

new normal di Indonesia
© Media Indonesia

Supaya new normal benar-benar bisa diwujudkan, tentu harus ada daerah percontohan. Menurut Menteri PPN (Perencanaan dan Pembangunan Nasional)/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, daerah itu adalah DKI Jakarta. Di mana di bawah kepemimpinan Gubernur Anies Baswedan, DKI Jakarta sudah memenuhi syarat meskipun belum diputuskan secara resmi.

Agar sebuah daerah bisa memulai skema new normal dengan menyesuaikan PSBB, haruslah memenuhi tiga hal. Ketiga syarat itu adalah menurunnya Angka Reproduksi Efektif (RT<1) selama dua minggu berturut-turut, sebagai bukti kalau virus corona bisa dikendalikan. Lalu terpenuhinya sistem pelayanan kesehatan di mana kapasitas maksimal tempat tidur rumah sakit dan IGD perawatan Covid-19 harus lebih besar dariapda jumlah kasus baru.

Terakhir, daerah itu harus memenuhi syarat surveilans yakni kapasitas tes swab yang cukup dengan aturan 3.500 tes per satu juta penduduk. Atas syarat terakhir ini, Jakarta dilaporkan sudah melakukan 550 ribu tes per satu juta penduduk yang artinya jumlah tes sudah di atas Thailand dan Malaysia. Tak heran kalau memang separuh dari total seluruh tes Covid-19 secara nasional, dilakukan di Jakarta.

Scroll to Top