Small Caps, 5 Emiten ini Harga Sahamnya Melambung Selama Sepekan

harga emiten small caps melambung

Setelah mengalami kemuraman sepanjang bulan April hingga awal Mei akibat pandemi Covid-19, IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) mulai bangkit. Setidaknya hal itu terlihat sejak pekan kedua bulan Mei lalu. Di tengah wabah corona dan bulan suci Ramadan, IHSG mampu menguat tipis.

Bahkan dalam perdagangan awal pekan pada Senin (18/5) hari ini, IHSG memiliki potensi untuk menguat di saat bursa saham Wall Street mengalami rebound. Peristiwa ini terjadi setelah Wall Street merilis data indeks sentimen konsumen Amerika Serikat di bulan Mei, yang ternyata lebih baik daripada perkiraan.

Sekadar informasi, pada penutupan perdagangan pekan lalu yakni hari Jumat (15/5), bursa saham Indonesia mengalami koreksi tipis 6.23 poin alias 0.14% sehingga jadi 4.507,61. Koreksi ini sendiri terjadi karena semakin banyak kecemasan akan ketegangan geopolitik antara Tiongkok dan Amerika Serikat, serta laporan neraca dagang domestik yang muram.

Seperti dilansir BEI (Bursa Efek Indonesia), nilai transaksi perdagangan pada Jumat kemarin menyentuh Rp7,2 triliun. Dari catatan itu, investor asing memang masih melakukan aksi net sale (jual bersih) yang mencapai Rp1,09 triliun dalam negosiasi dan di pasar reguler. Kemudian dalam pembukaan perdagangan tadi pagi, IHSG terpantau ada di zona hijau setelah menguat tipis sebesar 13,713 poin atau sebesar 0.304% ke level 4.521.

Saham Fluktuatif, Investor Asing Lakukan Net Sale

situasi IHSG di BEI (1)
© Tirto

Sebelum terpantau menguat tipis, IHSG rupanya mampu menyentuh level tertinggi 4.527 sementara level terendahnya adalah 4.504. Dalam kondisi itu diketahui kalau volume perdagangan saham IHSG mencapai 323 juta lembar dengan nilai Rp355,5 miliar, seperti dilansir Medcom.

Dari volume perdagangan yang mencatat terjadinya 38.780 kali transaksi itu, ada 141 saham di antaranya yang menguat dan 63 saham melemah, kemudian sisanya sekitar 124 saham jalan di tempat. Sekadar informasi, dari puluhan sama yang mengalami penurunan pada Jumat pekan lalu, ternyata di antaranya dimiliki oleh emiten-emiten kuat dari BUMN (Badan Usaha Milik Negara).Beberapa saham yang menurun dilaporkan CNBC Indonesia adalah:

  • PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) = -6.90%
  • PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk (BBNI) = -5.65%
  • PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) = -5.64%
  • PT United Tractors Tbk (UNTR) = -5.00%
  • PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) = -4.81%

Kemudian dalam penutupan sesi pertama perdagangan hari Senin (18/5), sejumlah saham rupanya berhasil mengalami peningkatan cukup signifikan. Berikut rinciannya:

  • PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) = +14.52% ke level Rp142 per saham
  • PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) = +9.96% ke level Rp1.380 per saham dengan total transaksi 30,4 juta lembar saham
  • PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) = +6.19% ke level Rp103 per saham
  • PT Adaro Energy Tbk (ADRO) = +5.95% ke level Rp980 per saham dengan total transaksi 28,5 juta saham
  • PT Envy Technologies Indonesia Tbk (ENVY) = +5.94% ke level Rp107 per saham

Sama seperti hari Jumat kemarin, dalam perdagangan hari ini masih juga diwarnai aksi jual bersih oleh investor asing di semua pasar keuangan. Tercatat aksi net sale ini menyentuh nominal Rp358,83 miliar. Di mana dari lima besar saham yang paling banyak dijual, rupanya dikuasai oleh emiten perbankan, seperti dilansir Katadata.

Ketiga emiten itu adalah BBRI milik PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk yang paling banyak dilego hingga menurun sampai 2.68%, sehingga ditutup pada harga Rp2.180 per saham, lalu BBCA dari PT Bank Central Asia (BCA) Tbk yang turun 0.31% ke level Rp23.850 per saham, dan terakhir adalah BMRI milik PT Bank Mandiri Tbk yang merosot sebesar 1.6% pada level Rp3.700 per saham.

Hanya saja meskipun sangat fluktuatif, penguatan IHSG ini patut diapresiasi. Karena artinya IHSG juga sejalan dengan menguatnya indeks-indeks di Asia lainnya seperti Indeks Nikkei 225 (+0.57), Indeks Hang Seng Hong Kong (+).4%), Shanghai Composite Index (+0.6%) dan Indeks Strait Times Singapore (+0.74%%).

5 Saham Paling Cuan di Pekan Kedua Mei 2020

situasi IHSG di BEI (2)
© mediaindonesia

Kondisi indeks yang cukup optimis ini rupanya menciptakan pandangan beragam di kalangan konsumen, terutama masyarakat Amerika Serikat. Richard Curtin selaku Kepala Ekonom Surveys of Consumers pun angkat bicara kepada Dow Jones Newswires.

“Adanya potongan harga dan suku bunga rendah berdampak pada peningkatan pandangan atas kondisi pembelian. Kendati memang sebagian diimbagi oleh ketidakpastian pekerjaan dan penghasilan, tapi indeks ekspektasi masih menunjukkan tidak adanya pemulihan ekonomi yang belum diantisipasi konsumen,” papar Curtin.

Sementara itu di Indonesia, dalam sepekan kemarin, IHSG justru mencatatkan koreksi tapi beberapa saham small caps justru meraih hasil sangat positif. Kenapa bisa begitu? Karena aksi net sale oleh investor asing pada periode 11-15 Mei 2020 yang membuat saham-saham kapitalisasi besar cenderung dijual.

Sehingga meskipun IHSG terpuruk 1.95% dalam satu minggu, saham-saham small caps dengan nilai kurang dari Rp1 triliun justru menggembirakan. Apa saja? Berikut beberapa emiten yang justru melambung dan bisa dipertimbangkan untuk dibeli.

1. PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO)

Berpusat di Banten, PT Tifico Fiber Indonesia Tbk adalah perusahaan multinasional yang memproduksi polyester fiber alias serat poliester. Sekadar informasi, serat sintetik ini merupakan bahan baku untuk produk tekstil, salah satu sektor unggulan ekspor Indonesia. Sudah berdiri pada tahun 1975, Tifico menghasilkan banyak sekali produk poliester seperti filament yarn, fiber fill untuk boneka dan bantal hingga filament yarn.

Mempunyai pendapatan US$281 juta (per tahun 2016) dan laba bersih US$6 juta (per tahun 2016), Tifico adalah emiten yang mencatat peningkatan harga tertinggi pada pekan lalu. Memiliki lebih dari 1.132 karyawan, tak banyak yang tahu kalau Tifico pada awal mulanya adalah perusahaan Jepang bernama Teijin (Teikoku Jinzo-Kenshi Kaisha).

Saat itu, Teijin hanya memproduksi benang rayon sebelum akhirnya memperoleh lisensi teknologi dari ICI di tahun 1957. Seiring berjalannya waktu, Tejin dan Toyo Rayon pun sepakat menggunakan nama dagang Tetoron sejak 1968 untuk serat poliester mereka. Dengan kapasitas produksi kini tercatat 200 ribu per tahun, TFCO mengalami perubahan sebesar 78.5% sepanjang pekan lalu. Kemudian di sesi perdagangan hari ini, TFCO masih mencatat kenaikan sebesar 8.80%.

2. Indo Straits Tbk (PTIS)

Berdiri pada tahun 1985, PT Indo Straits Tbk (PTIS) adalah perusahaan yang menyediakan jasa teknik kelautan terpadu. Melayani pekerjaan konstruksi sipil kelautan, Indo Straits biasanya bekerjasama untuk perusahaan jasa migas dan logistik. Bahkan Indo Straits juga menyediakan pengiriman barang serta transportasi untuk perusahaan pertambangan batu bara.

Dalam perkembangannya, perusahaan yang sudah tercatat di BEI sejak tahun 2011 ini juga mampu mengerjakan kebutuhan reklamasi pantai, pembangunan dermaga hingga pembangunan pemecah gelombang. Sepanjang pekan lalu, PTIS mengalami perubahan sebesar 74.4%, sehingga harga saham mereka melambung dari Rp86 ke Rp150 per lembar! Dan pada Senin ini, saham PTIS kembali meningkat 15 poin atau sebesar 10%.

3. PT Onix Capital Tbk (OCAP)

Sebelum dikenal sebagai PT Onix Capital Tbk, perusahaan yang berdiri pada 6 Oktober 1989 ini bernama PT Piranti Ciptadhana Amerta. Terjadi beberapa kali, perusahaan yang bergerak di bidang jasa konsultan bidang bisnis manajemen dan administrasi ini mengalami perubahan nama terakhir di awal 2011 dari PT JJ NAB Capital Tbk menjadi PT Onix Capital Tbk.

Sekadar informasi, Onix Capital sebelumnya bergerak di bidang perantara pedagang efek dan penjamin emisi efek sehingga kerap dikenal sebagai broker sekuritas. Di tengah pandemi Covid-19 yang membuat dunia trading bergejolak, emiten OCAP justru melambung sebesar 67.8% dari semula Rp118 per lembar jadi Rp198 per lembar saham hingga Senin hari ini.

4. PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST)

Bergerak di bidang perdagangan besar peralatan telekomunikasi, aktivitas telekomunikasi dengan dan tanpa kabel, PT Jasnita Telekomindo Tbk termasuk salah satu perusahaan yang kinerja sahamnya positif. Sudah melayani masyarakat sejak tahun 1997, Jasnita pun berkembang dengan melayani aktivitas telekomunikasi satelit, ISP (Internet Service Provider) hingga aktivitas hosting.

Lantaran pandemi Covid-19, besar kemungkinan Jasnita terkena imbas #DiRumahAja sehingga kebutuhan telekomunikasi makin besar. Tak heran kalau emiten JAST tercatat meningkat hingga 48.6% dari Rp109 per lembar saham jadi Rp162 di pekan kedua Mei 2020. Namun pada perdagangan hari ini, JAST justru menurun 11 poin atau sebesar 6.79% menjadi Rp151 per lembar saham.

5. PT Golden Flower Tbk (POLU)

Telah beroperasi secara komersial sejak tahun 1989, PT Golden Flower Tbk adalah produsen sekaligus eksportir garmen di Tanah Air. Beberapa merk premium yang beredar di masyarakat seperti Calvin Klein, Tommy Hilfiger, DKNY, Ralph Lauren, Talbots, White House Black Market, Ann Taylor dan lain-lain adalah produksi dari PT Golden Flower Tbk.

Seperti kebiasaan Idul Fitri, permintaan dalam sektor garmen memang meningkat yang ternyata berpengaruh pada saham Golden Flower. Di mana sepanjang pekan kedua-ketiga bulan Mei 2020, emiten POLU melambung sebesar 45.7% dari Rp635 ke Rp925 per lembar saham. Tetapi POLU kembali terkoreksi sebesar 6.49% di hari Senin hingga akhirnya ditutup pada harga Rp865 per lembar saham.

Tentunya masing-masing emiten yang disebutkan memang berasal dari small caps. Tapi melihat tren yang mereka perlihatkan (sekalipun ada koreksi), kelima emiten di atas masih bisa jadi pertimbangan di tengah kondisi ekonomi tak menentu seperti sekarang. Sehingga kalau Anda tengah tertarik membeli saham-saham ‘kecil’, kelima emiten itu bisa dipertimbangkan sembari melihat perkembangan IHSG pada pekan ketiga bulan Mei 2020 ini.

Scroll to Top