Kekinian! Co Living Sebagai Tren Hunian dan Kantor Masa Depan

Pandemi virus Covid-19 memaksa guru, dosen, pekerja kantoran, hingga anak muda pengembang start-up untuk mengurangi intensitas mereka di luar rumah dan bekerja dari rumah. Meski pada kondisi normal sebelumnya sudah ada sebagian orang yang mempraktekan bekerja dari jarak jauh dengan memanfaatkan beragam aplikasi digital dan penyimpanan digital bersama yang tentu didukung dengan fasilitas internet yang cepat.

Sebagian pekerjaan jarak jauh tersebut dilakukan oleh generasi muda yang lebih suka disebut sebagai generasi millenial dengan bekerja di sebuah fasilitas bernama Communal Working Space, disingkat Co Working Space.

Sebuah konsep ruangan kerja yang digunakan secara bersama oelh banyak pekerja freelance atau penggiat start up dengan fasilitas internet cepat dan tata ruang dengan kesan industrial atau perkantoran namun juga tidak kaku dengan menggunakan meja berpenyekat misalnya.

Co Working Space lebih menonjolkan keterbukaan dan kolaborasi sehingga didominasi dengan meja ukuran sedang dengan empat atau lima kursi, meski tidak menafikan kebutuhan privat dengan menyediakan pula meja kecil dengan satu kursi di beberapa sudut ruangan.

Himbauan pemerintah untuk bekerja di rumah saja untuk memutus mata rantai penyebaran virus membuat ruang-ruang Co Working Space di pusat kota menjadi sepi tak berpenghuni lantaran sebagian besar pengguna Co Working Space memiliki tempat tinggal masing-masing.

Dalam situasi dimana aktivitas kolaboratif harus terus berjalan tanpa harus melakukan perjalanan keluar rumah untuk berkumpul, diskusi melalui berbagai aplikasi meeting online merupakan solusi jangka pendek.

Baca: Terungkap, Inilah Rahasia Dapat 1000 Dolar dari Rumah Saja!

Namun selayaknya makhluk sosial, semua dari kita merindukan aktifitas diskusi tatap muka dan interaksi seacara langsung dalam melakukan sebuah pekerjaan. Hingga kemudian konsep Co Living Space disebut-sebut sebagai solusi di masa depan dengan mengintegrasikan tempat tinggal dan tempat kerja yang bisa digunakan secara komunal.

Dilansir dari theguardian,com, Co Living Space adalah upaya untuk menyatukan ruang-ruang publik dalam satu tempat sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menjangkau dan berpindah dari aktifitas satu ke aktifitas yang lain.

Bayangkan kamu mempunyai tempat tinggal, ruang kerja, tempat bersantai, dan fasilitas hiburan di satu gedung yang sama. Kamu tidak perlu capek menghadapi kemacetan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, sebuah konsep yang tepat di masa pandemi bahkan ketika ini semua sudah berangsur pulih. Efektifitas dan efisiensi menjadi kunci dari konsep Co Living Space ini.

Konsep yang terinspirasi dari barak militer atau asrama siswa ini dikembangkan menjadi konsep tempat tinggal bersama sekaligus menyediakan ruang kerja bersama lengkap dengan nuansa industrial, internet yang cepat dan interior yang mendukung kenyamanan kerja. Ini juga menjadi jawaban atas kebutuhan akan tempat tinggal bagi generasi muda di tengah semakin mahalnya harga kepemilikian properti.

Gagasan Co Living Space mulai muncul pada tahun 2010 di beberapa negara Eropa dengan tingkat pertumbuhan start-up yang tinggi seperti Inggris dan Jerman. New York, Chicago, dan San Francisco juga mempunyai pertumbuhan yang pesat atas permintaan Co Living Space seiring budaya kerja generasi Z yang tidak bisa dibatasi oleh jam kerja normal. Sehingga jika suatu waktu dia sedang memiliki mood untuk menyelesaikan pekerjaan, maka dia tidak perlu repot untuk keluar rumah.

Co Living Space pertama di Indonesia adalah Roam Co Living Space yang dibangun di Ubud Bali sejak tahun 2015 oleh Alexis Dornier, arsitek berkebangsaan Jerman yang mengembangkan proyek arsiteknya untuk wilayah tropis seperti Indonesia. Memiliki 24 kamar dengan fasilitas lounge, dapur, dan barbeque area yang bisa digunakan untuk bersama.

Dornier ingin membangun sebuah masyarakat kecil dimana orang-orang tetap mendapatkan ruang privasi sebaik mereka mendapatkan ruang untuk berkumpul, berbagi pengetahuan, pengalaman dan mendapatkan pendidikan yang layak.

Hingga pada awal 2020 tercatat baru ada sekitar duapuluh Co Living Space yang bisa ditemukan melalui situs pemesanan di Indonesia, beberapa ahli mengatakan bahwa jumlah permintaan akan terus meningkat dengan cepat seiring dengan masih berlakunya himbauan untuk tetap melakukan pembatasan aktivitas sosial sebagai upaya penyebaran virus Covid-19 yang paling cepat ditemukan vaksinnya adalah pada tahun 2021.

Pembatasan aktivitas sosial yang artinya adalah membatasi mobilitas diri dari tempat – tempat keramaian dimana kita tidak bisa menghindar dari berpapasan bahkan berdekatan dengan orang yang tidak kita ketahui dari mana asal mereka, sehingga menimbulkan risiko yang lebih tinggi bagi kita untuk terpapar virus Covid-19. 

Lain ceritanya jika orang-orang yang sedang mengerjakan pekerjaan yang sama juga tinggal dalam satu lingkungan yang sama maka mereka tidak perlu meninggalkan lingkungan tersebut dan meminimalisir untuk bertemu dengan orang asing.

Dengan jumlah penyedia jasa Co Living Space yang masih sedikit di Indonesia, maka peluang bisnis sebagai penyedia jasa ini masih menjadi celah besar seiring semakin munculnya kesadaran untuk mewujudkan tempat tinggal dan tempat kerja yang sehat dan efisien. Pandemi ini seolah menjadi titik balik bagi generasi muda untuk membiasakan pola hidup sehat dan kreatifitas kerja yang efisien dengan memanfaatkan fasilitas teknologi.

Hal tersebut bisa menjadi kekuatan bagi kamu yang berminat membuka bisnis menjadi penyedia jasa Co Living Space untuk menggabungkan antara pembiasaan pola hidup sehat dan kelengkapan fasilitas teknologi sebagai nilai jual pada calon klien. Akan lebih baik jika kamu menyediakan klinik pemeriksaan kesehatan atau setidaknya menyertakan fasilitas kesehatan sederhana seperti hand sanitizer di tempat – tempat strategis, alat pengukur suhu, dan kotak P3K.

Flokq Co living sebagai salah satu penyedia jasa Co Living Space di Jakarta juga mengatakan bahwa masa depan Co Living dimulai seiring dengan pekerja dari luar kota yang mengidamkan perpaduan antara kenyamanan tinggal dan serta kemampuan untuk melakukan networking dalam pekerjaan. Ini merupakan potensi yang tepat bagi pemilik properti dan calon investor untuk melirik bisnis Co Living sebagai bisnis properti masa depan. (Al)

Baca juga: Rupiah vs Dolar dari Tahun Ke Tahun ( Update 2020 )