Belajar 3 Jenis Visualisasi dan Data Candlesticks

Ada 3 jenis visualisasi data yang sering digunakan dalam pasar finansial, yaitu grafik garis, grafik batang dan grafik candlestick. Candlestick sendiri merupakan metode visualisasi grafik yang sangat populer karena memberikan banyak keuntungan yang dapat membantu dalam pengambilan keputusan trading.

Dalam pembentukan grafik candlestick ada 4 data harga penting yang dapat ditampilkan. Hal ini berbeda dengan tampilan dari grafik garis yang hanya bisa menampilkan 1 jenis data, misalnya data harga penutupan atau sering disebut closing.

Sedangkan candlestick dapat menampilkan 4 data sekaligus, yakni data pembukaan (open), tertinggi (high), terendah (low), penutupan (close). Empat data tersebut sering disingkat sebagai data OHLC – Open, High, Low, Close.

Belajar 3 Jenis Visualisasi dan Data Candlesticks
Candlesticks

Grafik candlestick itu sendiri sudah digunakan oleh Homma Munehisa, seorang pedagang beras di Jepang pada abad ke 18. Pada tahun 1755, Homma Munehisa menulis buku berjudul “San-en Kinsen Hiroku” yang mengulas mengenai psikologi pasar.

Pada bukunya, Homma menulis bahwa, “ketika semua orang bearish, ada alasan bagi pasar untuk naik” dan begitu pula sebaliknya.

Pada tahun 1900-an, candlestick dibawa dan dipopulerkan di Barat oleh Steve Nison lewat tulisan-tulisannya. Hal ini mengakibatkan meningkatnya popularitas teknik candlestick yang akhirnya dipakai berbagai pasar finansial baik saham, komoditas, dan tentu saja forex.

Komponen sebuah candlestick dibagi 2, menjadi badan lilin, yang biasa disebut body. Ini merupakan area di tengah yang berbentuk seperti lilin. Bagian kedua adalah bagian yang terlihat seperti sumbu lilin, yang biasa disebut sebagai shadow atau wick.

Ingat, terdapat 4 data pada sebuah candlestick, yakni OHLC – Open, High, Low, Close. Dari 4 data tersebut, 2 data terdapat pada real body dari candle dan 2 data terdapat pada shadow dari candle.

Pada body candle, terdapat data open dan data close, sedangkan pada shadow candle, terdapat data high dan data low. Empat data tersebut ditampilkan pada 1 candlestick, yang merepresentasikan suatu periode waktu tertentu.

Misalnya ;

4 data OHLC tersebut merupakan data harian. Jadi harga pembukaan dan penutupan pasar di hari itu, dan juga harga tertinggi dan terendah pada hari tersebut. Hal ini membuat candlestick sangat praktis karena dapat menampilkan informasi yang banyak secara sederhana dan mudah dimengerti.

Tergantung dari posisi open dan close, candlestick dibagi 2 menjadi candle bullish dan bearish candle, dimana candle bullish merupakan candlestick yang melambangkan kenaikan harga dan candle bearish merupakan candle yang melambangkan penurunan harga.

Jadi pada candle bullish, harga close akan berada di atas candle open, dikarenakan pada periode tersebut, harga mengalami peningkatan. Sedangkan pada candle bearish harga close akan berada di bawah candle open, yang berarti harga mengalami penurunan.

Biasanya, candle bullish yang menandakan kenaikan harga diberikan warna putih sedangkan candle bearish yang menandakan penurunan harga diberikan warna hitam. Sebenarnya dengan platform modern saat ini, warna dapat diatur sedemikian rupa.

Namun, pada umumnya trader akan menggunakan warna putih untuk candle bullish dan hitam untuk candle bearish, atau warna hijau untuk candle bullish dan merah untuk candle bearish.

Candlestick merupakan alat yang sangat populer karena dapat memberikan informasi secara cepat dengan visual. Hal ini dilakukan karena bentuk candlestick memiliki ciri khas yang dapat memberikan informasi sentimen pasar.

Misalnya saat sebuah candle memiliki real body yang besar, baik itu candle bullish maupun candle bearish, menandakan sentimen pasar yang kuat dan dominan.

Semakin besar body candle, menunjukkan tekanan yang kuat dari buyer ataupun seller, yang berarti bahwa antara buyer atau seller ada yang lebih mengontrol market. Sebaliknya candlestick dengan body yang kecil menunjukkan aktivitas jual beli yang sedikit dan tidak ada yang lebih dominan antara buyer dan seller.

Jika candlestick berwarna putih dan berukuran besar, ini berarti candlestick memiliki tekanan yang kuat dari buyer, sehingga buyer memiliki kontrol dan dominasi atas pasar. Semakin besar candle tersebut, semakin jauh jarak antara harga closing dan harga opening.

Sebaliknya, candlestick berwarna hitam yang berukuran besar, menunjukkan tekanan yang kuat dari seller,
sehingga seller memiliki kontrol dan dominasi atas pasar. Indikasi atas pasar juga bisa kita lihat dari shadow yang dibentuk oleh candlestick.

Shadow di bagian atas candle, sering juga disebut upper shadow, menunjukkan high pada sesi candle tersebut, sedangkan shadow di bagian bawah candle, sering disebut lower shadow, menunjukkan low pada sesi candle. Candlestick dengan shadow yang panjang, menunjukkan bahwa terjadi perdagangan yang aktif di dekat harga open dan harga close.

Candlestick dengan upper shadow yang panjang, menunjukkan bahwa buyer sempat menunjukkan dominasi atas pasar, namun berhasil dilawan oleh seller dan harga dibawa turun sehingga tutup meninggalkan upper shadow tersebut.

Sebaliknya juga dengan candlestick yang memiliki lower shadow panjang. Artinya, seller sempat menunjukkan dominasi atas pasar, namun berhasil dilawan oleh buyer dan harga dibawa naik meninggalkan lower shadow tersebut.

Tentunya masih banyak yang dapat kita pelajari dari candlestick setelah kita mengerti konsep dasarnya, seperti misal candlestick pattern. Namun penting untuk kita mengerti konsep dasar