Jaga Nilai Aset Anda dengan Menabung Emas

Copytrade.blog – Uang semestinya memiliki tiga fungsi utama. Yaitu sebagai alat tukar, satuan pembukuan dan sebagai unit penyimpanan nilai. Namun apakah benar jika kita menyimpan uang kertas ketiga fungsi tersebut berjalan dengan baik.

Uang kertas memang lazimnya digunakan sebagai alat tukar (medium exchange) pada transaksi sehari-hari. Dengan uang kertas tidak perlu ada sistem barter. Uang kertas memang sangat praktis, nilai tukarnya jelas. Meskipun sebagian sudah ada yang menjalani transaksi dengan pembayaran non tunai, namun nilai ukurnya dari uang kertas tersebut.

Sebagai satuan hitung (unit of account) uang berfungsi menunjukan nilai berbagai macam barang dan jasa. Seperti menunjukan nilai harga sembako, harga sepeda motor, harga mobil, jasa pengiriman, jasa pembuatan rumah, layanan kesehatan dan sebagainya. Sebagai satuan hitung uang juga menunjukan besarnya kekayaan maupun besar kecilnya pinjaman.

Uang juga berfungsi sebagai alat penyimpan nilai (Store of Value). Fungsi uang dapat digunakan untuk mengalihkan daya beli dari masa sekarang ke masa mendatang. Misal ada orang jualan barang, keuntungan itu ditabung dan kelak kemudian hari bisa digunakan untuk membeli barang lagi.

Pada fungsi ketiga ini acap kali uang kertas akan tergerus nilai inflasi. Seiring waktu nilainya akan turun. Ekonom peraih nobel di bidang ekonomi asal Amerika, Paul A Samuelson mengatakan Inflasi adalah Perampok yang Mengambil Kekayaan Kita Tanpa Kita Sadari.

Baca: Tiru Kebiasaan Ini, dan Bersiaplah Menjadi Orang Sukses

Dalam kehidupan sehari-hari ada beberapa hal yang menjadi penyebab inflasi, seperti karena permintaan masyarakat akan barang tertentu yang kuat dan kenaikan ongkos produksi. Inflasi juga bisa disebabkan karena faktor dalam negeri semisal karena defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan percetakan uang baru maupun akibat gagal panen.

Inflasi juga bisa disebabkan oleh faktor dari luar negeri semisal karena kenaikan bahan mentah yang harus diimpor dari luar negeri ataupun kebutuhan mesin dan teknologi baru untuk kegiatan produksi yang perlu di impor dari luar negeri.

Pada saat nilai inflasinya rendah, orang masih merasa aman menyimpan uang kertas di bank dalam jangka sedang. Namun saat inflasinya tinggi maka semakin lama menyimpan uang nilainya semakin tergerus.

Agar tidak terbawa arus inflasi, seorang pekerja maupun yang memulai usaha perlu membagi uang yang dimiliki dalam tiga bagian. Meliputi;

Yang pertama uang cash ataupun uang di tabungan untuk kebutuhan transaksi jangka pendek. Semisal untuk keperluan belanja kebutuhan sehari-hari, belanja produksi maupun kebutuhan distribusi.

Yang kedua miliki tabungan dalam bentuk emas untuk menjaga kekayaan agar tidak tergerus inflasi. Menabung dalam bentuk emas batangan akan lebih menjamin harta yang dimiliki tidak berkurang. Sebagaimana diketahui harga emas cenderung naik tiap tahun seiring dengan kenaikan inflasi. Sebenarnya kenaikan harga emas ini bukan karena nilai emas yang naik. Nilai emasnya tetap, hanya nilai mata uangnya yang turun.

Dilansir dari data goldprice, pada tahun 2009 harga emas murni pada kisaran Rp 320.000 pergram, di tahun 2011 harganya Rp 400.000 pergram, pada tahun 2014 pada kisaran 450.000 hingga Rp 500.000 pergram dan pada awal 2020 menyentuh angka Rp 650.000 pergram. Grafiknya naik turun. Namun demikian nilai emas lebih tahan terhadap inflasi. Maka tak heran JP Morgan menyebut emas adalah uang (sesungguhnya).

Yang ketiga simpan uang dalam bentuk aset. Berbicara soal aset, tentu tanah ataupun perumahan yang menjadi hak milik bisa disebut aset. Nilainya cenderung naik, bahkan melebihi nilai kenaikan emas. Aset yang lain dalam bentuk saham.

Bagaimana jika memulai hidup dari kelas pekerja. Aturlah manajemen keuangan sebaik mungkin. Menahan keinginan untuk menikmati seketika dengan membelanjakan seluruh uang untuk kebutuhan konsumsi. Sebisa mungkin sisihkan sekitar 30 hingga 20 persen uang dari penghasilan (primary income) untuk ditabung. Setelah cukup belanjakan emas. Jika mempunyai kemampuan analisa yang baik membaginya sebagian dengan membelanjakan saham juga bagus. Setelah cukup bisa dibelanjakan pada aset.

Siapapun Anda, dan apapun profesinya saat ini bila tidak berinvestasi maka akan susah kaya. Uang akan cepat menguap. (EB Utomo)

Baca juga: Peluang Bisnis Kaki Lima, Modal Sedikit Untung Selangit