Analisa Teknikal, Hal Penting yang Wajib Dipahami Saat Trading

Dunia trading memang sangat menggoda. Berpeluang memperoleh cuan besar dalam waktu singkat, membuat jumlah trader terus meningkat. Dulu untuk menjadi seorang trader haruslah memiliki modal melimpah, tapi tidak dengan sekarang.

Sudah banyak broker-broker lokal atau internasional, menawarkan modal deposit awal yang sangat terjangkau bagi trader. Mereka bahkan memiliki aneka konsep trading yang makin mudah dipahami seperti social trading dan copy trading. Melalui dua konsep trading ini, siapapun bisa bertransaksi di pasar ekuitas atau pasar berjangka tanpa ribet.

Namun kendati untuk trading saat ini makin dipermudah, ada beberapa hal yang wajib dipahai oleh trader entah profesional maupun pemula. Apa itu? Analisa Teknikal. Yap, analisa teknikal disebut-sebut memberikan pengaruh cukup besar bagi seorang trader bisa sukses dalam perdagangan. Karena itulah kendati makin efektif dan efisien kegiatan trading, tak ada salahnya Anda tetap memahami analisa teknikal.

Apa itu Analisa Teknikal?

Seperti namanya, analisa teknikal memang berkaitan dengan hal-hal teknis dalam dunia trading. Hal ini disebabkan karena analisa teknikal adalah sebuah pendekatan analisa harga yang diperoleh berkat mengamati aktivitas pasar lewat data-data seperti riwayat dan grafik harga di masa lalu. Nantinya data-data itu dipakai untuk memperkirakan sekaligus mengantisipasi harga ke depannya.

Dalam analisa teknikal sendiri, ada cukup banyak indikator yang dipakai supaya bisa memprediksi waktu tepat betransaksi. Biasanya data-data yang diolah itu akan diperlihatkan dalam sebuah grafik bersama data pergerakan harga. Apakah analisa teknikal ini sangat penting dalam dunia trading? Jawabannya adalah iya.

Kenapa begitu? Karena dunia trading yang memuat berbagai aset seperti forex, saham, logam mulia hingga indeks, seperti sebuah semesta yang dipenuhi harta karun. Siapapun jelas ingin untung di ‘semesta’ tersebut. Namun untuk mewujudkannya diperlukan berbagai perlengkapan penjelajahan yang dalam dunia trading, peralatan itu adalah analisa teknikal.

Lantaran pasar ekuitas dan pasar berjangka tak bisa ditebak luas dan alur-alur yang ada di dalamnya, analisa teknikal berfungsi seperti layaknya kompas petunjuk arah. Kendati memang akurasi analisa teknikal tidaklah mungkin bisa 100%, prosentase yang mendekati sempurna tetap membuat analisa teknikal wajib dipahami oelh setiap trader.

Prinsip Dasar Analisa Teknikal

Setelah memahami seperti apa analisis teknikal, hal berikutnya supaya makin paham, Anda harus tahu apa saja prinsip dalam analisis ini. Kenapa harus tahu? Karena jika sudah tahu dan paham, analisa teknikal bisa diterapkan dalam beberapa instrumen trading mulai dari forex, saham, kontrak berjangka, komoditi hingga opsi. Apalagi kalau Anda mengincar cuan jangka pendek, berikut prinsip yang wajib dimengerti:

1. Hukum Permintaan dan Penawaran

Prinsip pertama yang jadi dasar analisa teknikal ialah segala hal yang berpengaruh pada pergerakan pasar, memang tercermin dari pegerakan pasar itu sendiri. Pergerakan pasar yang dimaksud baik secara fundamental, bencana alam, politik hingga faktor psikologis dari para pelaku pasar. Bagaimana bisa begitu? Karena adanya hukum permintaan dan hukum penawaran.

Sekadar informasi, kedua hukum ini menyimpulkan jika harga akan naik saat permintaan begitu tinggi, sementara harga bakal turun ketika penawaran sangat banyak. Untuk itulah jika Anda ingin mengambil keputusan trading, lebih memperhatikan pergerakan harga.

Sehingga jika disimpulkan untuk prinsip pertama ini sesuai pernyataan Robert A. Levy selaku pendiri CDA Investment Technologies, nilai pasar sangat ditentukan oleh interaksi permintaan dan penawaran. Di mana interaksi itu disebabkan banyak faktor entah yang rasional dan tidak rasional.

2. Tren Pengaruhi Harga

Analisa teknikal berperan penting dalam penentuan arah tren pergerakan harga di kemudian hari entah jangka panjang, menengah atau jangka pendek. Karena itu tak berlebihan jika disebutkan dalam prinsip kedua, bahwa tren mempengaruhi betul harga pasar.

Ada tiga keadaan arah tren yakni pergerakan harga yang cenderung tetap (trend continuation), pergerakan harga yang cenderung berbalik arah (trend reversal) dan pergerakan harga yang cenderung bergerak bolak-balik dalam rentang harga tertentu (sideways/ranging).

Dalam The Dow Theory, Charles H. Dow menjelaskan mengenai teori tren pergerakan harga yang bertujuan untuk mengidentifikasi tren harga pasar saham dalam jangka panjang. Di mana pergerakan saham bisa dikelompokkan jadi primary trend (pergerakan harga dalam waktu lama), secondary/intermediate trend (pergerakan harga yang terjadi di saat fase primary trend) dan mintor trend/day-to-day move (naik-turunnya harga setiap hari).

Dari pola pergerakan harga primary trend, ada dua istilah yang sangat berkaitan dalam analisa teknikal. Kedua hal itu adalah bull market dan bear market. Secara singkat, bull market adalah kondisi saat pasar tengah bergairat karena pergerakan harga-harga dalam primary trend cenderung naik. Sementara bear market ketika kondisi pasa lesu, lantaran harga-harga turun.

Dalam The Dow Theory, Charles H. Dow menjelaskan mengenai teori tren pergerakan harga yang bertujuan untuk mengidentifikasi tren harga pasar saham dalam jangka panjang. Di mana pergerakan saham bisa dikelompokkan jadi primary trend (pergerakan harga dalam waktu lama), secondary/intermediate trend (pergerakan harga yang terjadi di saat fase primary trend) dan minor trend/day-to-day move (naik-turunnya harga setiap hari).

Dari pola pergerakan harga primary trend, ada dua istilah yang sangat berkaitan dalam analisa teknikal. Kedua hal itu adalah bull market dan bear market. Secara singkat, bull market adalah kondisi saat pasar tengah bergairah karena pergerakan harga-harga dalam primary trend cenderung naik. Sementara bear market ketika kondisi pasar lesu, lantaran harga-harga turun.

3. Sejarah Berulang

Pernah dengar istilah history repeats itself? Hal ini rupanya juga dipegang oleh para penganut analisa teknikal. Di mana pasar akan selalu bergerak dalam sebuah siklus. Ada pola-pola tertentu yang membuat harga bergerak dan cenderung berulang dari masa ke masa. Banyak yang berpendapat bahwa perilaku para investor atau trader di masa lalu sama dengan saat ini.

Untuk itulah dalam analisa teknikal, supaya tahu bagaimana pergerakan harga di masa yang akan datang, kuncinya adalah memperhatikan betul pergerakan harga di masa lampau. Diperlukan sebuah pengalaman akan ‘membedah’ data-data supaya bisa melakukan analisa teknikal yang tepat. Tak heran kalau banyak trader atau investor pemula merugi hanya karena kesalahan, lantaran kurang paham analisa teknikal.

Kesalahan Pemula Saat Lakukan Analisa Teknikal

Lantaran trading adalah sebuah dunia yang sangat kompleks, untuk memperoleh keuntungan dan konsisten bertahan, diperlukan pengalaman dan pelatihan ulet. Tak heran kalau akhirnya para pemula lebih sering melakukan kesalahan, terutama saat mempelajari dan menerapkan analisa teknikal.

Banyak trader yang bakal menyalahkan indikator teknikal yang tak akurat sebagai penyebab kekeliruan analisa teknikal mereka. Padahal itu semua belum tentu karena bisa saja para trader itu melakukan beberapa kesalahan seperti berikut:

1. Mengabaikan Spread

Kesalahan pertama yang sering dilakukan pemula dalam mempelajari analisa teknikal adalah tidak memperhitungkan spread. Spread sendiri adalah keuntungan trading yang diterima broker lantaran didapat dari selisih harga Ask dan Bid, saat trader melakukan transaksi.

Trader pemula kerap kaget saat melihat riwayat tradingnya menjadi minus beberapa pips saat baru saja open posisi. Apakah menurut Anda ini merupakan ulah broker yang memanipulasi harga atau salah melakukan analisa? Jangan emosi dulu. Karena bisa saja kekeliruan harga pemesanan ini disebabkan oleh adanya besaran spread.

2. Hanya Satu Indikator

Seperti yang diketahui, ada banyak sekali indikator dalam analisa teknikal hingga sampai ratusan jumlahnya. Namun jika disuruh memilih, ada empat indikator alias formula matematis yang paling populer. Keempat indikator itu adalah Moving Average (MA) yang menghitung pergerakan harga rata-rata dalam sebuah rentang waktu, Relative Strength Index (RSI) yang menghitung perbandingan daya tarik kenaikan dan penurunan harga.

Kemudian Stochastic yang akan menunjukkan lokasi harga penutupan terakhir dibandingkan range harga terendah/tertinggi dalam waktu tertentu, dan terakhir adalah Moving Average Convergence Divergence (MACD). MACD bisa dibilang paling berguna bagi trader karena akan menunjukkan tren yang tengah terjadi, sehingga trader dapat memtuskan mau jual atau beli.

Hanya saja tidak ada indikator analisa teknikal yang sempurna. Seperti Stochastics atau RSI yang cocok saat pasar tengah bearish atau bullish dan indikator Bollinger ketika pasar Sideways. Menjadi masalah ketika seorang trader cuma mengandalkan satu indikator saja, sehingga membuat mereka sulit menemukan entry optimal. Untuk itulah tak ada salahnya memahami indikator-indikator lainnya.

3. Indikator Terlalu Banyak

Cuma memakai satu indikator dalam analisa teknikal memang tidak tepat. Namun jika Anda menggunakan banyak indikator, jelas juga keliru karena membuat grafik harga tidak bisa diamati. Apalagi beberapa indikator ada yang memiliki fungsi sama seperti Pivot Point dan Fibonacci, sehingga kalau ngotot dipakai bersama-sama, jelas bakal bikin bingung.

Beberapa trader profesional biasanya cuma memakai 2-3 indikator saja. Kalau di-breakdown lagi, biasanya mereka menggunakan indikator tren, indikator penunjuk jenuh beli atau jenuh jual dan indikator identifikasi openclose posisi. Seperti apa contohnya? Kombinasi dari MA, RSI dan Fibonacci Retracement.

4. Salah Pasang Indikator

Jika sudah memilih indikator secara bijaksana, jangan sampai Anda keliru memasangnya. Kenapa? Karena kalau indikator dipasang pada timeframe keliru, hasilnya jelas akan kacau. Seperti contohnya, Anda memasang MA period 100 day pada timeframe lima menit, hasilnya akan tidak tepat. Kok bisa begitu? Karena semakin kecil timeframe pada MA, seharusnya period juga makin kecil.

Jadi kalau mau menggunakan timeframe lima menit, setidaknya pasang MA pada period rendah seperti 10 atau 12 hari. Supaya bisa pasang di timeframe yang pas, usahakan tidak menggunakan pengaturan default dalam MetaTrader.

5. Abaikan Berita Fundamental

Dan inilah kesalahan terakhir yang kerap dilakukan trader saat menggunakan analisa teknikal. Tak hanya pemula, para trader profesional pun juga sering mengabaikan perilisan berita-berita fundamental yang sebetulnya mempengaruhi analisa teknikal. Dalam dunia trading, ada waktu-waktu di mana analisa teknikal bahkan tak berguna lantaran gejolak pasar terlalu ekstrim.

Bagaimana? Cukup menarik bukan mempelajari analisa teknikal? Tentunya dengan perhitungan yang tepat dan selalu memperhatikan pergerakan pasar, Anda bisa menjadi seorang trader yang profesional. Semangat untuk belajar trading, ya!